ARTIKEL REFLEKSI

PGP-1-Kabupaten Indragiri Hilir-Ardinas Hasti-Aksi Nyata Paket Modul 3.3 

Program Pembelajaran yang berpihak pada murid dalam menanamkan nilai-nilai agamis di Lingkungan Sekolah melalui tahapan BAGJA (Modal Agama)

 

Latar Belakang Tentang Situasi Yang Dihadapi

 

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Hal ini sejalan dengan nilai yang terkandung di dalam profil pelajar pancasila yaitu  Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia  yang bertujuan agar peserta didik menerapkan segala nilai-nilai baik sesuai dengan ajaran agama dalam kehidupannya sehari-hari.

Untuk mendukung profil pelajar pancasila yang  Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, maka dilaksanakanlah program pembiasaan “Morning Spirit” yang berdampak pada murid dengan menggunanakan tahapan BAGJA. Tahapan BAGJA merupakan model manajemen perubahan yang merupakan akronim dari Buat pertanyaan utama, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, Atur eksekusi.

Selain itu untuk membangun program yang berdampak pada murid kita harus melaksanakan Monitoring, Evaluasi, Learning, dan Reporting (MELR). Monitoring merupakan proses menghimpun informasi dan analisis internal dari sebuah proyek atau program. Evaluasi merupakan sebuah penilaian retrospektif secara priodik pada suatu proyek atau program yang telah selesai. Learnig merupakan pembelajaran yang meliputi : Fact (fakta), Feeling (perasaan), Finding (temuan), dan Future (masa depan). Sedangkan Reporting merupakan alat untuk memberikan dan menginformasikan masukan untuk pengambilan keputusan.

 

Yang dilakukan pada Aksi Nyata, berikut alasan mengapa melakukan aksi tersebut

Aksi nyata yang dilakukan adalah menerapkan program yang berdampak pada murid melalui tahapan BAGJA untuk mewujudkan visi sekolah yang memberikan kemerdekaan belajar bagi peserta didik. Alasannya tahapan BAGJA memunyai peranan penting dalam menciptakan manajemen perubahan.

Langkah-langkah tahapan BAGJA yaitu :

1.    Buat pertanyaan utama

Pada tahapan ini menemukan apa yang ingin anda selidiki menjadi bentuk pertanyaan. Buatlah pertanyaan untuk mengarahkan kita kepada penelusuran hal-hal yang akan kita lakukan, misalnya bagaimana cara meningkatkan kepemimpinan siswa melalui kegiatan “Morning Spirit” di lingkungan sekolah maupun di rumah.

2.    Ambil pelajaran

Pada tahapan ini menentukan bagaimana cara kita menggali fakta, memperoleh data, melibatkan multi unsur (diskusi kelompok kecil atau besar) dengan memceritakan dan menuliskan pengalaman/kegiatan baik, perestasi yang pernah terjadi yang berhubungan dengan topik bahasan (kepemimpinan murid di sekolah), misalnya : Setiap pagi sebelum masuk ke kelasnya masing-masing, murid kelas tinggi secara bergantian  mewakili memimpin bacaan surah pendek dan bacaan shalat dalam kegiatan “morning spirit”.

3.    Gali mimpi

Pada tahapan ini menyusun deskripsi kolektif bilamana insiatif terwujud. Kemudian mengalokasikan kesempatan untuk berproses bersama, multi unsur (kapan, dimana, siapa saja). Pada tahapan ini kita juga membuat gambaran rinci kondisi ideal atau mimpi kita terkait topik bahasan yaitu :

-     Murid yang memiliki jiwa  kepemimpinan adalah  murid yang memiliki sikap  jujur, menghargai orang  lain, dan bertanggung  jawab dengan pilihannya.

-     Guru harus mempunyai  sikap terbuka akan saran  dan masukan dari orang  lain, memberikan  kesempatan kepada murid seluas-luasnya untuk pengembangan diri, dan  mengarahkan murid dengan baik.

-     Kepala sekolah yang  mendorong kepimpinan  murid harus memiliki sikap  bertanggung jawab,  terbuka, dan memberikan  kepercayaan terhadap  langkah perbaikan dan  pengembangan guru dan  murid.

-     Orang tua yang senantiasa memotivasi dan memberikan dukungan kepada murid dalam pengembangan dirinya

-     Hal- hal yang perlu dimiliki untuk meningkatkan kepemimpinan murid adalah adanya kolaborasi dan dukungan penuh dari guru, orang tua maupun kepala sekolah untuk pengembangan kepemimpinan murid di sekolah.

4.      Jabarkan rencana

Pada tahapan ini mengidentifikasi tindakan konkret yang diperlukan untuk menjalankan langkah-langkah kecil sederhana yang dapat dilakukan segera, dan langkah berani/terobosan yang akan memudahkan keseluruhan pencapaian. Pada tahapan ini juga kita membuat cara/strategi mencapai mimpi-mimpi yang sudah kita tuliskan :

-     Program ini dapat berjalan  dengan baik dengan  keterlibatan semua  komunitas sekolah, seperti  kepala sekolah sebagai  penanggung jawab, para  guru sebagai pengarah  dan murid sebagai panitia  pelaksana. Murid yang menjadi panitia pelaksana  mempunyai kebebasan  untuk merancang kegiatan dengan petunjuk  dan arahan dari guru/kepala sekolah.  

-     Monitor dilakukan oleh  masing-masing guru kelas. Evaluasi melibatkan guru dan  kepala sekolah serta komunitas praktisi sekolah.

-     Evaluasi melibatkan guru, kepala sekolah, dan guru pembina.

5.      Atur Eksekusi.

Pada tahap ini menentukan siapa yang berperan dalam pengambilan keputusan, dan pada tahap ini juga kita menentukan tim inti program yaitu :

Penanggung Jawab kegiatan: Kepala sekolah

Pengarah : Dewan guru 

Koordinator Acara: Murid 

Penanggung Jawab Acara: Murid

Seksi pengawas Acara : Murid dengan dipandu oleh komunitas praktisi sekolah

Laporan dibuat oleh : Koordinator acara (ketua  panitia).

Koordinasi dilakukan  dengan rapat setiap satu  minggu sekali internal panitia. 

Hasil rapat internal dilaporkan kepada dewan  guru sebagai pengarah  acara.

Evaluasi dapat  dilakukan melalui rapat  koordinasi dengan kepala  sekolah dan guru.

 

Hasil dari Aksi Nyata yang dilakukan

Penerapan program pembiasaan yang berdampak pada murid dalam mewujudkan perilaku peserta didik yang beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia melalui tahapan BAGJA (Modal Manusia) dapat memberikan hasil yang positif dan memuaskan, karena dalam program tersebut murid terlibat langsung dalam melakukan aktivitas, sehingga murid menjadi disiplin dan terbiasa dalam melakukan hal-hal positif. Dengan tertanamnya jiwa disiplin pada murid, maka murid tersebut dapat menjadi pemimpin yang bisa mengayomi terhadap siapa yang dipimpinnya. Murid juga menjadi terbiasa dan dapat menerapkan program pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih lagi saat ini situasi dan kondisi pandemi yang mengharuskan belajar dari rumah, sehingga murid dapat mempraktekkan program pembiasaan “Morning Spirit” dari rumah bersama anggota keluarga lainnya.

Deskripsi ini dilengkapi dengan foto dan tahapan saat menjalankan Aksi Nyata




Dokumentasi Pelaksanaan Program Morning Spirit sebelum Pandemi


Dokumentasi Pelaksanaan Program Morning Spirit saat Pandemi

 

Perasaan ketika atau setelah menjalankan Aksi Nyata

Perasaan saya ketika menjalankan Aksi Nyata merasa bahagia, bersemangat sekaligus antusias karena murid-murid sudah mempunyai kesadaran untuk bisa menjadi pemimpin saat membaca bacaan shalat ataupun surah-surah pendek, meskipun saya menyadari bahwa masih ada murid yang harus dibimbing secara eksta karena rasa percaya diri yang  kurang untuk bisa menjadi pemimpin dalam program pembiasaan tersebut. Setelah menjalankan Aksi Nyata saya merasa terkesan dengan keberanian, ketertiban, dan kedisiplinan dari murid untuk mau menjalankan program “Morning Spirit”.

 

Pembelajaran yang didapat dari pelaksanaan keseluruhan Aksi (baik dari kegagalan maupun keberhasilan)

Pembelajaran yang didapat dari program  “Morning Spirit” di lingkungan sekolah maupun di rumah melalui tahapan BAGJA (Modal Agama) dapat ditinjau dari :  

1.    Kegagalan

Kegagalan dari program pembiasaan “Morning Spirit” untuk mewujudkan perilaku peserta didik yang beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia melalui tahapan BAGJA (Modal Agama) yaitu terdapat kesulitan dalam menjalankan program tersebut, karena program itu seharusnya dilaksanakan secara bersama-sama di sekolah, namun karena pandemi Covid-19, program ini tidak dapat terlaksana secara keseluruhan oleh warga sekolah dan hanya bisa dilaksanakan di rumah masing-masing murid.

2.    Keberhasilan

Keberhasilan dari program pembiasaan “Morning Spirit” melalui tahapan BAGJA (Modal Agama), yaitu terlihat murid sudah mulai terbiasa berperilaku tertib dan disiplin saat mengikuti kegiatan serta murid menjadi lebih cepat hafal bacaan shalat dan bacaan surah pendek sehingga murid tidak kesulitan lagi jika diminta mempraktekkannya dalam pembelajaran di sekolah maupun di rumah. Dengan tumbuhnya jiwa disiplin pada diri murid maka akan melahirkan kepemimpinan yang diharapkan untuk generasi dimasa yang akan datang dalam mewujudkan perilaku peserta didik yang beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia.

 

Rencana perbaikan untuk pelaksanaan dimasa mendatang

Rencana perbaikan untuk pelaksanaan dimasa yang akan datang adalah lebih mengutamakan komunikasi dengan kepala sekolah, koordinasi serta kolaborasi dengan rekan sesama guru dan orang tua murid dalam melaksanakan program-program sekolah yang berdampak pada murid.

 

 

 

 

 

 

Comments